Senin, 07 Desember 2009

ALGAE BIRU

Alga biru atau ganggang belah atau ganggang lendir, (Cvanophyceae, Schizophyceae, atau Myxophyceae) adalah ganggang bersel tunggal atau berbentuk benang dengan struktur tubuh yang masih sederhana. Warna biru-kehijauan, autotrof. Inti dan kromotofora tidak ditemukan. (Tjitro Soepomo,1994)
Dinding sel mengandung pektin, hemiselulosa, dan selulosa, yanga kadang-kadang berupa lendir, oleh sebab itu ganggang ini juga dinamakan ganggang lendir (Myxophyceae). Rupa-rupanya sebagian dinding lendir ini berlekatan dengan plasma, meskipun tidak selalu demikian, dan ini terbukti dari percobaan-percobaan plasmolisis. (Tjitro Soepomo,1994)
Pada bagian pinggir plasmanya terkandung zat warna klorofil-a, karotenoid, dan dua macam kromoprotein yang larut dalam air yaitu: fikosianin yang berwarna biru dan fikoeritrin yang berwarna merah. Perbandingan macam-macam zat warna itu amat labil, oleh sebab itu warna ganggang tidak tetap, kadang­kadang tampak kemerah-merahan, kadang-kadang kebiru-biruan. Gejala ini dianggap sebagai suatu penyesuaian diri terhadap sinar (adaptasi kromatik), misalnya dalam cahaya hijau warnanya kebanyakan merah, dalam cahaya merah menjadi hijau atau biru. Hal ini rupa-rupanya berhubungan dengan proses asimilasi. (Tjitro Soepomo,1994)
Di tengah-tengah sel terdapat bagian yang tidak berwarna yang mengandung asam deoksi-ribonukleat dan asam ribonukleat. Jadi di sini kedua macam asam nukleat itu telah terkumpul seperti dalam inti sel tumbuh-tumbuhan tinggi. Tetapi kromosom belum tampak. Bagian pusat dapat mengembang dan berpengaruh terhadap turgor. Dalam sel-sel yang telah tua tampak juga vakuola. (Kimball,1987)
Sebagai zat makanan cadangan ditemukan glikogen dan di samping itu butir-butir sianofisin (lipo-protein) yang letaknya diperiferi, dan volutin yang fungsinya masih belum terang.
Cyanophyceae umumnya tidak bergerak. Di antara jenis­jenis yang berbentuk benang dapat mengadakan gerakan merayap yang meluncur pada alas yang basah. Bulu cambuk tidak ada, gerakan itu mungkin sekali karena adanya kontraksi tubuh dan dibantu dengan pembentukan lendir. (Kimball,1987)
Perkembangbiakan selalu vegetatif dengan membelah, pembiakan secara seksual belum pernah ditemukan. (Tjitro Soepomo,1994)
Cyanophyceae dibedakan dalam 3 bangsa.

Bangsa Chroococcales.
Berbentuk tunggal atau kelompok tanpa spora, warna biru kehijau-hijauan.
Suku Chroococcaceae, termasuk di dalamnya jenis-jenis:
¾ Chroococcus turgidus,
¾ Gloeocapsa sanguinea
Umumnya alga ini membentuk selaput lendir pada cadas atau tembok yang basah. Setelah pembelahan, sel-sel tetap bergandengan dengan perantaraan lendir tadi, dan dengan demikian terbentuk kelompok-kelompok atau koloni. (Tjitro Soepomo,1994)

Bangsa Chamaesiphonales,
Alga bersel tunggal atau merupakan koloni berbentuk benang, mempunyai spora. Benang-benang itu dapat putus-putus merupakan hormogonium, yang dapat merayap dan merupakan koloni baru. (Tjitro Soepomo,1994)
Spora terbentuk dari isi sel (endospora). Setelah keluar dari sel induknya, spora dapat menjadi tumbuhan baru. Untuk menghadapi kala yang buruk dapat membentuk sel-sel awetan dengan menambah zat makanan cadangan serta mempertebal dan memperbesar dinding sel. (Kimball,1987)
Suku Chamaesiphonaceae, contohnya: Chamaesiphon confer‑vicolus.

Bangsa Hormogonales
Sel-selnya merupakan koloni ber­bentuk benang, atau diselubungi suatu membran. Benang-benang itu melekat pada substratnya, tidak bercabang, jarang mempunyai per­cabangan sejati, lebih sering mem­punyai percabangan semu. Benang‑benang itu selalu dapat membentuk hormogonium. (Tjitro Soepomo,1994)
Suku Oscillatoriaceae, di dalamnya termasuk marga:
Oscillatoria, hidup dalam air atau di atas tanah yang basah, sel­selnya bulat, merupakan benang-benang dan akhirnya memben­tuk koloni yang berlendir. Pada jarak-jarak tertentu pada benang­benang itu terdapat sel-sel yang dindingnya tebal, kehilangan zat­zat warna yang berguna untuk asimilasi, hingga kelihatan keku­ning-kuningan dan dinamakan heterosista. Heterosista ini dalam keadaan khusus dapat tumbuh menjadi benang baru, tetapi fungsinya belum dikenal dan biasanya lekas mati. (Kimball,1987)
O. limosa; O. princeps.
Suku Rivulariaceae, yang meliputi antara lain marga Rivularia.
Pada koloni Rivularia tampak adanya polaritas. Pangkalnya terdiri atas suatu heterosista, ujungnya berakhir dalam suatu ram­bu t.
R. bullata; R. haematites.
Suku Nostacaceae, antara lain meliputi marga Nostoc dan Ana­baena.
Nostoc, dapat menambat N dari udara, seringkali bersimbiosis dengan Fungi membentuk Lichenes.
N. commune; N. sphaeroides.
Anabaena, juga menambat N dari udara dan dapat bersimbiosis dengan tanaman lain.
¾ cycadeae bersimbiosis dengan pakis haji (Cycas rumphii) dalam akar-akarnya yang disebut akar-akar bunga karang.
¾ A. azollae bersimbiosis dengan sejenis paku air Azo/la pinnata (dalam daunnya) yang hidup di sawah-sawah dan di rawa‑rawa. (Tjitro Soepomo,1994)

Cyanophyceae tersebar di seluruh dunia sebagai massa lendir atau benang-benang halus, hidup dalam air, bahkan ada yang dalam sumber-sumber air panas, sebagian juga dalam tanah yang basah dan pada kulit pohon-pohon.. Ganggang ini merupakan perintis dan menyiapkan batu-batu atau cadas-cadas untuk tumbuh-tumbuhan lain yang lebih tinggi. Beberapa jenis ganggang ini dapat melarut batu kapur. Ada pula di antaranya yang ikut menyusun Lichenes. (Tjitro Soepomo,1994)
Hubungan kekerabatan Idengan golongan tumbuh­tumbuhan lain masih belum terang. Hubungan dengan Flagellata yang bagi ganggang lainnya dapat ditunjukkan, tidak tampak bagi Cyanophyceae. Mengingat bentuk dan susunan tubuhnya, ada kemungkinan alga biru mempunyai hubungan dengan bakteri, tetapi rupa-rupanya dengan penyelidikan lebih mendalam kemungkinan itu makin tipis. Melihat belum adanya diferensiasi isi selnya, ganggang ini harus digolongkan makhluk kuno, yang sudah hidup pada zaman Pra-Kambrium, 600 juta tahun yang lalu. (Kimball, 1987)

Divisi 2. Cyanophyta
Kelompok yang beranggotakan 1.500 spesies ini biasanya bercirikan warna hijau kebiru-biruan, yang disebabkan suatu pigmen tambahan selain klorofil dan karotenoid. Kadang-kadan pigmen merah juga ada, dan variasi dalam perbandingan pigmen-­pigmen ini menghasilkan kisaran yang sangat luas dalam hal warna pada tumbuhan kelas ini. Laut Merah diberi nama demikian karena kadang-kadang ganggang hijau-biru ini terdapat dalam jumlah amat besar, sehingga pigmen merah yang lebih banyak itu jadi tampak.(Kimball,1987)
Tubuh algae hijau-biru tidak menunjukkan diferensiasi dalam struktur secara nyata. Di antaranya ada yang uniselular, tetapi kebanyakan membentuk koloni tanpa filamen atau dapat juga membentuk filamen dengan atau tanpa cabang-cabang (Gambar 16.14). Sel-sel dan koloni tanpa filamen diselubungi dengan suatu kelubung gelatin yang dapat sangat menyolok. Reproduksi seksual tidak diketahui pada algae hijau-biru, dan zoospora motil tidak dibentuk. Satu-satunya reproduksi yang dikenal ialah cara asek­sual, terutama dengan pembelahan sel pada bentuk-bentuk uni­selular, sedangkan yang membentuk koloni dengan cara pembelah­an sel dan fragmentasi. Beberapa filamen dapat juga membentuk spora istirahat, yakni spora berdinding tebal yang resisten terhadap panas dan pengeringan, dan yang mengandung bahan makanan. Suatu sel baru tumbuh dari spora istirahat pada waktu perkecam­bahan. Filamen dapat juga membentuk sel-sel membesar yaitu heterosista, yang fungsinya tidak ada. Sel-sel tanpa fungsi ini diduga spora yang telah kehilangan daya reproduksinya. (Tjitro Soepomo,1994)
Dalam beberapa hal, organisasi selular ganggang hijau-biru berbeda dengan yang ada pada tumbuhan tingkat tinggi dan malahan menyerupai bakteri (Bab 23). Pembelahan sel terjadi dengan perluasan dinding selnya arah ke dalam berbentuk cincin. Belum ditemukan satu pun struktur yang sama benar dengan nukleus sebagaimana pada organisme lain, yang dilengkapi dengan kromosom, membran nuklir, dan nukleolus. Bahan nuklir yang dijumpai pada struktur yang tidak beraturan namun kaya akan DNA, biasanya dinamai benda kromatin, dan cenderung terpusat di bagian tengah sel, tetapi dapat juga tersebar. Seperti halnya pada tumbuhan tingkat tinggi, klorofil terikat pada lam (Bab 10) tetapi tidak berkumpul menjadi grana. Pada kebanyakan spesies, lamela fotosintetik ini membentuk jalinan kompleks yang menyebar ke seluruh sel dan menembus sitoplasma. tetapi, pada beberapa spesies, lamela tersusun dalam lapisan paralel di bagian luar sel. Jadi, di dalam sel algae hijau-biru tidak ada benda khusus seperti nukleus, plastid, atau sitoplasma. (Kimball,1987)
Ganggang hijau-biru tersebar luas dan tumbuh di pelbagai habitat. Banyak di antaranya hidup dalam air; yang lain terdapat pada tanah lembab, batu-batuan basah, atau menempel pada tumbuhan atau binatang. Agaknya amat banyak dijumpai dalam kolam hangat yang kaya akan benda organik, karena mereka memerlukan banyak sekali nitrogen. Sejumlah spesies dapat bertahan dalan air tercemar dan kerap kali merupakan petunjuk adanya polusi organik. Ganggang hijau-biru terdapat dalam sumber air panas di berbagai tempat di permukaan bumi. Mereka dapat tumbuh subur pada suhu sampai 85°C, yang hampir merupakan batas atas bagi kehidupan untuk dapat ada dalam keadaan aktif. (Tjitro Soepomo,1994)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar